Teknik Pemurnian


I.               JUDUL PERCOBAAN
Teknik Pemurnian
II.            TUJUAN PERCOBAAN                  
Pada akhir percobaan mahasiswa diharapkan memahami dan terampil dalam :
1.        Melakukan destilasi untuk pemisahan dan pemurnian
2.        Mengkalibrasi dan mengoreksi pembacaan thermometer
3.        Merangkai peralatan destilasi sederhana
4.        Memisahkan campuran azeotrop
5.        Melakukan rekristalisasi dengan baik
6.        Memilih pelarut yang sesuai untuk rekristalisasi
7.        Menjernihkan dan menghilangkan warna larutan
8.        Menguasai tehnik penentuan titik leleh
9.        Membaca titik leleh pada thermometer
10.    Membedakan campuran dari senyawa murni dari titik lelehnya
III.        LANDASAN TEORI
Dalam praktikum kimia sering kali berbagai campuran zat harus dipisahkan menjadi zat murni. Cara pemisahan tersebut dapat berupa penyaringan, dekantasi, penguapan, kristalisasi, kromatografi dan destilasi. Prinsip destlasi adalah proses penguapan dan pengembun dari suatu zat cair pada tekanan dan suhu tertentu. Tujuan destilasi adalah pemurnian zat cair pada titik didihnya , dan pemisahan cairan dari zat padat atau memisahkan zat cair dari campuran zat cair lainnya yang mempunyai titik didih yang berbeda. Rekristalisasi yaitu cara memurnikan zat padat organic yang paling efektif umumnya dengan melrutkannya dalam suatu pelarut yang cocok sekitar titik didihnya. Titik leleh sustu senyawa adalah suhu dimana senyawa tersebut mulai meleleh sampai seluruhnya meleleh. Senyawa-senyawa murni suhunya hamper tetap selama meleleh atau disebut tititk leleh yang tajam, misalnya 127,5-128 C atau 180-181 C,sedangkan untuk cuplikan yang sama tetapi tidak murni akan meleleh 123-126 C atau 178-180 C.Pengotoran yang dapat menyebabkan penurunan titik leleh ini mungkin sekali suatu bahan berbentuk resin yang tidak mudah diidentifikasi atau senyawa lain yang mempunyai titik leleh lebih rendah atau lebih tinggi dari senyawa utamanya.Kriteria kemurnian sustu zat adalah titik lelehnya yang tajam. Disamping itu, kita mempunyai senyawa-senyawa baku, maka dapat ditentukan titik lelehnya, kemudian senyawa yang tidak diketahui dicampur dengan senyawa baku, lau titik lelelh ditentukan lagi. Bila titik leleh campuran sama dengan titik leleh senyawa baku, maka berarti senyawa yang tidak diketahui itu sama dengan senyawa baku tersebut (Tim Dosen Kimia Organik, 2012: 3-4).
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian zat padat dari pencemaran yang dilakukan dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut yang sesuai. Prinsip dasar dari proses ini adalah perbedaan kelarutan antara zat yang dimurniakan dengan zat pencemarannya. Rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat yang jamak digunakan, dimana zat-zat padat tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut kemudian dikristalkan kembali. Cara ini bergantung pada kelarutan zat dalam pelarut tertentu dikala suhu diperbesar. Karena konsentrasi total impurity biasa lebih kecil dari konsentrasi zat yang dimurnikan, bila dingin, maka konsentrasi impurity yang rendah tetapi dalam larutan sementara produk yang berkonsentrasi tinggi akan mengendap. Teknik pemurnian adalah destilasi, destilasi adalah metode pemisahan dua cairan atau lebih yang didasarkan pada perbedaan titik didihnya umumnya destilasi menyangkut cairan dari gas dimana perbedaan tekanan uap diambil sebagai keuntungan untuk memishkan materi tersebut. Distilasi adalah proses pemisahan yang berdasarkan pemisahan titik didih dari komponen-komponen yang dipisahkan. Distilasi yang sering digunakan dalam proses isolasi komponen, pemekatan larutan, dan juga pemurnian komponen cair. Penentuan titik leleh filtrate yang diperoleh dari tahap pertama, digerus sampai halus. Hal ini bertujuan untuk memperkecil atau memperhalus ukuran Kristal agar dapat dimasukkan dalam tabung kapiler. Pipa kapiler harus dimasukkan kedalam alat ukur titik leleh yang melting-block. Mengatur melting-block dengan memulainya suhu terendah (annisanfushie 2008 ).
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian zat padat dari pencemaran yang telah dilakukan dengan cara mengkristalkan kembali atau pelepasan pelarut dari zat terlarutnya dalam sebuah campuran homogen atau larutan. Destilasi adalah suatu metode pemisahan dua campuran atau dua cairan atau lebih yang didasarkan pada perbedaan titik didihnya. Jenis-jenis destilasi ada beberapa yaitu destilasi sederhana, destilasi terfraksi, destilasi vacuum dan destilasi uap (Anonim, 2012).
Dasar pemisahan pada destilasi adalah perbedaan titik didih cairan pada tekanan tertentu. Pemisahan dengan destilasi melibatkan penguapan diferensial dari suatu campuran cairan diikuti dengan penampungan material yang menguap dengan cara pendinginan dan pengembunan. Pemisahan dengan destilasi berbeda dengan cara penguapan. Pemisahan dengan cara destilasi semua komponen yang terdapat didalam campuran bersifat mudah menguap (volatil). Tingkat penguapan (volatilitas) masing-masing komponen yang berbeda-beda pada suhu yang sama. Hal ini akan berakibat bahwa pada suhu tertentu uap yang dihasilkan dari suatu campuran cairan akan selalu mengandung lebih banyak ompenen yang kurang volatif jadi sifat yang demikian ini akan terjadi sebaliknya, yakni pada suhu tertentu fasa cairan akan lebih banyak mengandung komponen yang kurang volatile. Jadi cairan yang setimbang dengan uapnya pada suhu tertentu memiliki komposisi berbeda. Uap selalu lebih banyak mengandung komponen volatil yang berbeda. Pemisahan secara destilasi berbeda dengan pemisahan penguapan. Pada pemisahan dengan cara penguapan komponen volatil dipisahkan dari komponen yang non volatil, karena proses pemanasan. Sebagai contoh: pemisahan penguapan dapat digunakan untuk memisahkan air dari larutan NaCl berair, sedang pemisahan dengan cara destilasi digunakan untuk memisahkan campuran alcohol dan air untuk itu, sebagai contoh adalah pemurnian alcohol, pemisahan minyak bumi menjadi fraksi-fraksinya, pembuatan minyak astiri dan sebagainya. (Soebagio, 2003: 24)
Langkah pertama dalam pemurnian minyak bumi biasanya adalah destilasi (penyulingan). Minyak mentah dipanaskan sampai sekitar 4000C, dan uapnya naik ke kolom fraksinasi yang tinggi. Fraksi bertitik didih lebih rendah naik lebih cepat dan lebih tinggi dalam kolom sebelum  mengembun menjadi cairan, fraksi bertitik didih lebih tinggi dikertak (cracked) oleh kalor dan katalis (terutama silica dan alumina), menghasilkan produk dengan rantai karbon yang lebih pendek dan karenanya titik didihnya lebih rendah. (Hart, 2003: 115)
Perubahan dari cair menjadi padat disebut pembekuan, dan proses kebalika disebut pelelehan atau peleburan. Titik leleh suatu padatan (atau titik bekku suatu cairan) adalah suhu pada saat fasa padat dan cair berada dalam kesetimbangan. Titik leleh normal (titik beku normal) suatu zat adalah titik leleh (titik beku) yang diukur pada tekanan 1 atm. Biasanya kita menghilangkan kata “normal” dalam merujuk titik leleh zat pada tekanan 1 atm. Kesetimbangan cair-padat yang sangat dikenal adalah kesetimbanagn air dan es. Pada 00C dan 1 atm, kesetimbangan dinamis tersebut dinyatakan dengan : es setimbang air. Ilustrasi praktis dari kesetimbangan dinamis tersebut dinyatakn diberikan oleh segelas air es. Ketika es balok meleleh menjadi air, sebagian air diantara balok es dapat membeku, sehingga balok-balok es tersebut bergabung. Hal ini bukan merupakan kesetimbangan dinamis yang sesungguhnya, karena gelas tidak dijaga pada 00C semua balok es akhirnya meleleh seluruhnya. Energy (biasanya dalam kilojoule) yang dibutuhkan untuk melarutkan atau melehkan 1 mol padatan disebut kalor peleburan molar. (Chang, 2003: 3)
IV.        METODE
A.      Alat dan Bahan
1.        Alat:
a.         Labu destilasi 500ml
b.        Kondensor tegak
c.         Corong Buchner
d.        Erlenmeyer 125 dan 250 ml
e.         Labu isap 150 ml
f.         Pembakar spiritus
g.        Kasa asbes dan kaki tiga
h.        pengaduk
i.          Gelas ukur 10ml, 25 ml dan 100ml
j.          Penjepit tabung
k.        Tabung kapiler
l.          Melting point
m.      Thermometer 310 C dan 100 C
n.        Botol semprot
o.        Statif dan klem
p.        Gelas piala
2.        Bahan:
a.         Asam salisilat (C7H6O3)
b.        Urea (CO(NH2)2)
c.         Etanol (CH3CH2OH)
d.        Batu didih
e.         Asam benzoate (C6H5COOH)
f.         Norit
g.        Air (H2O)
B.                 PROSEDUR KERJA
a.                   Destilasi biasa
1.                  Memasang peralatan destilasi biasa dengan memasang labu bundar 500 mL yang diklem dan disimpan di atas kawat kasa dan pembakar Bunsen
2.                  Melengkapi ujung kondensor dengan adaptor dan penampung gelas ukur
3.                  Mengalirkan air pendingin, mengalirkan aliran air dari bawah ke atas
4.                  Memasukka campuran etanol-air ke dalam labu yang jumlahnya maksimum setengah volume labu
5.                  Menambahkan beberapa butir batu didih
6.                  Memulai melakukan pemanasan dengan api yang diatur perlahan naik sampai mendidih.
7.                  Mengatur pemanasan supaya destilat menetes secara teratur dengan kecepatan satu tetes perdetik
8.                  Mencatat suhu dan volume destilat secara teratur setiap interval waktu tertentu (setiap 5 menit).
b.                  Rekristalisasi
1.                  Menempatkan 1 gram Kristal (asam) dan 5 mL air dalam Erlenmeyer 125 mL
2.                  Menggoncang campuran tersebut, meletakkan di atas pembakar kecil sampai mendidih
3.                  Menambahkan setiap kali 5 mL air ambil menggoncang sampai Kristal tepat larut dengan beberapa jumlah air yang diperlukan. Menambahkan air sampai volume 25 mL
4.                  Memasukkan norit 1-2% dari berat asam, mendidihkan sambil diaduk
5.                  Menuangkan/menyaring ke atas corong Buchner yang sudah dilengkapi labu isap
6.                  Memindahkan hasil saringan tersebut ke dalam Erlenmeyer
7.                  Membiarkan mendingin hingga mengkristal, kalau pada suhu kamar belum terbentuk Kristal, kita dapat melakukan pendinginan dalam air es.
8.                  Menyaring Kristal yang terbentuk dengan corong biasa yang dilengkapi dengan kertas saring, lalu mengeringkannya di oven.
c.                   Penentuan titik leleh
1.                  Menimbang zat yang akan ditentukan titik lelehnya yaitu urea dan asam benzoate dengan perbandingan 1:1, 4:1, dan 1:4
2.                  Memasukkan zat yang telah ditimbang dan zat yang tidak diketahui kedalam pipa kapiler
3.                  Memasang tabung kapiler yang sudah berisi zat dalam lubang khusus pada blok logam atau dengan cara menempelkannya ada thermometer (kedudukan zat tepat pada kolom Hg) untuk penentuan menggunakan alat thiele.
V.                HASIL PENGAMATAN
A.                Destilasi Biasa
Volume destilasi kurang lebih 125 ml, pada tetsan pertama destilat yaitu terjadi pada suhui 80
B.                 Rekristalisasi
Asam benzoat yang dimasukkan dalam Erlenmeyer ditambah air menghasilkan campuran yang tak berwarna tapi tampak keruh. Campuran dididihkan hingga tidak mengkristal lagi, dimasukkan norit hingga mendidih sampai diaduk, campuran dihasilkan berwarna hitam. Setelah mendidih larutan disaring pada corong Buchner hingga terpisah antara norit dan larutan Kristal . Hasil saringan disaring didinginkan hingga membentuk endapan hasil saringan disaring lagi, dilapisi dengan kertas watman hingga terbentuk serbuk warna putih, dikeringkan pada oven dan diperoleh Kristal 0,3 gram yang berwarna putih.
C.                 Penenentuan Titik Leleh
Menutup salah satu ujung pipa kapiler melalui pemanasan kecil pada api, ujung pipa kapiler tertutuup. Urea dicampurkan dengan asam salisilat dengan perbandingan 1:4, 4:1 dan 1:1. Campuran diaduk dan dimasukkan ke dalam pipa kapiler yang telah berisi zat tidak diketahui. Memindahkan zat ke lubang yang tertutup pada pipa kapiler, kemudian menutup kembali ujung pipa kapiler melalui pemanasan kecil. Memasukkan pipa kapiler ke dalam alat thiele dan mengamati suhu zat sampai meleleh. Titik leleh zat tidak diketahui I : 128-1620C. titih leleh zat yang tidak diketahui II : 148-1600C. titik leleh zat perbandingan 1:1 : 190-2380C. titik leleh zat perbandingan 1:4 : 238-2500C. titik leleh zat perbandingan 4:1 : 240-2440C.
VI.        ANALISIS DATA
Penentuan titik leleh
1.      Zat X
Titik awal meleleh             : 120 ° C
Ttitk meleleh sempurna     : 125 ° C
Trayek titik leleh               : titik meleleh seluruhnya – Titik awal meleleh
                                          : 125 ° C - 120 ° C
                                          : 5 ° C

2.      Urea : Asam salisilat         : 1 : 1
Titik awal meleleh             : 130 ° C
Ttitk meleleh sempurna     : 134 ° C
Trayek titik leleh               : titik meleleh seluruhnya – Titik awal meleleh
                                          : 134 ° C - 130 ° C
                                          : 4 ° C





3.      Urea : Asam salisilat         : 1 : 4
Titik awal meleleh             : 137 ° C
Ttitk meleleh sempurna     : 139 ° C
Trayek titik leleh               : titik meleleh seluruhnya – Titik awal meleleh
                                          : 139 ° C - 137° C
                                          : 2 ° C

4.      Urea : Asam salisilat         : 4 : 1
Titik awal meleleh             : 134 ° C
Ttitk meleleh sempurna     : 142 ° C
Trayek titik leleh               : titik meleleh seluruhnya – Titik awal meleleh
                                          : 142 ° C - 134 ° C
                                          : 8 ° C

Rendemen Rekristalisasi
Dik:     Massa Teori C6H5COOH      : 1 g
Massa Praktek  C6H5COOH: 0,3 g
Dit:      Rendemen………….?
Penyelesaian:
Rendemen         =          x  100 %
                          =    x 100 %  =   30 %
VII.          PEMBAHASAN
A.                Destilasi
            Pada percobaan ini, Etanol ditambahkan dengan air yang dipisahkan atau dimurnikan dengan menggunakan kondensor yang berfungsi mendinginkan hasil destilat yang merupakan uapa panas senhingga berubah menjadi wujud cair. Destilat yang merupakan cairan murni yang keluar pada ujung kondensor menandakankan bahwa etanol yang terpisah dengan air paada kondensor, aliran air pendingin diarahkan dari bawaah membuat pendingin lebih aktif sehingga dapat lebih cepat mengembun uap. Pada proses destilasi, selelu dilakukan penambahan batu didih yang bertujuan untuk mengurangi letupan akibat pemanasan. Adapun air dan etanol susah dipisahkan. Pertama karena warnanya yang sama dan gugus hidroksil OH- pada etanol dapat membentuk ikatan hydrogen dengan air., pada proses pemanasan yang dilakukan, destilat pertama menetes pada suhu 80 ° C. Hal ini menunjukkan destilat pertama diperoleh adalah alkohol murni suhu campuran etanol dan air tidak boleh melebihi 90 ° C Sampai 100 ° C karena pada suhu tersebut, destilat yang diperoleh sudah bukan alcohol murni. Berdasarkan hasil percobaan, volume keseluruhan destilat yang diperoleh selama 5 menit yang ke 20 yaitu 125 mL. hal ini menunjukkan bahwa  airdestilat yang diperoleh tdk hanya berupa etanol namun sudah terdapat karena seharusnya etanol kurang sedikit darri 125 mL. Hal ini juga dikarenakan etan9ol menguapa pada suhu 78-79 ° C pada percobaan menit terakhir penguapan terjadi pada suhu 89° C sehingga air juga ikut menguap.
B.           Rekristalisasi
            Rekristalisasi adalah suatu tehnik pemurnian zat cair dari campurannya dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut yang cocok. Pada percobaan ini, pertama-tama memasukkan 1 g Kristal asam benzoate, 5 mL air ke dalam elenmeyer. Air disini berfungsi untuk mearutka asam bensoat karena air merupakan senyawa polar dan asam benzoate juga merupakan senyawa polar sehingga asam benzoate dapat dilarutkan dalam air. Setelah itu, dipanaska hingga medidih, saat pemanasan ditambahkan sedikit demi sedikit aquades agar asam asam tersebut cepat larut atau bercampur secar homogen. Kemudian, ditambahkan lagi air sampai volume 25 mL, dan masukkan 1-2% norit dari berat asam. Norit berfungsi untuk mengikat kotoran pada larutan, hal ini disebabkan norit merupakan arang aktiv sebagai bahan penyerap air karena mempunyai partikel-partikel yang besar. Kemudian larutan yang masih panas disaring dengan corong Buchner yang dilengkapi kertas saring whatman dan labu isap. Larutan disaring panas agar tidak terjadi pengkristalan pada kertas saring. Corong Buchner diguakan karena corong Buchner tersebut terbuat dari porselin yang tahan panas sehingga jika larutan disaring panas tidak panas tidak akan terjadi kerusakan pada corong, selain itu ukuran corong yang relative besar dari corong biasa dan dapat dilengkapi dengan labu isap sehingga dapat mempercepat proses penyaringan. Setelah Kristal terbentuk segera disimpan di dalam Erlenmeyer dan didiamkan selama beberapa menit didalam air es hingga Kristal yang terbentuk makin banyak. Kristal yang dihasilkan kemudian dibakar dalam oven menghasilkan Kristal sebnyak 0,3 g. Hal ini menandakan Kristal yang direkristalisasi ini lebih murni.
C.                 Penentuan titik leleh
            Pada percobaan ini akan ditentukan titik leleh suatu larutan yaitu dengan menentukan suhu yang diperoleh pada saat larutan tersebut mulai meleleh dan meleleh seluruhnya. Pada percobaa ini, akan dilakukan dua percobaan yaitu zat campuran dan zat yang tidak diketahui.
1.        Campuran
            Pada percobaan ini, membuat campuran urea dengan asam salisilat dengan perbandingan 1:4, 1:1, 4:1. Mengusahakan campuran homogen. Menotolkan tabung kapiler yang sudah di bakar salah satu ujungnya agar tabung kapiler tertutup sehingga campuran tidak keluar. Kemudian disimpan pada alat thiele yang dipasang pada thermometer lalu dipanaskan untuk menentukan titik lelehnya. Dari hasil pengamatan diperoleh bahea titik leleh urea dengan asam salisilat dengan perbandingan 1:4, 1:1, 4:1 adalah 480C, 120C dan 40C dengan trayek lelehnya yang cukup besar dan senyawa ini termasuk senyawa campuran dalam trayek lelehnya yaitu 10C ke atas. Hal ini tidak sesuai dengan teori.
2.        Zat yang tidak diketahui
Pada percobaan ini, zat yang tidak diketahui dimasukkan ke dalam tabung kapiler lalu dipanaskan agar zat tersebut tidak keluar. Tabung kapiler dipanaskan dan diletakkan pada alat thiele. Hasil yang diperoleh pada saat zat tak diketahui  mulai meleleh seluruhnya yaitu 1250C. Dari hasil tersebut diketahui zat titik lelehnya disekitar itu adalah asam benzoat. Menurut teori asam benzoate memiliki titik leleh yaitu 121,5° C - 122° C.
VIII.       KESIMPULAN DAN SARAN
A.                Kesimpulan
1.                  Destilat pertama campuran etanol air diperoleh pada suhu 80° C, hasil destilat diperoleh sebanyak 125 mL.
2.                  Rekristalisasi merupakan teknik pemisahan campuran dan pengotor dengan cara mengkristalisasikan kembali pelarutnya.. Rendemen yang diperoleh yaitu 30 %
3.                  Air adalah pelarut yang baik untuk rekristalisasi karena merupakan senyawa polar dan kekuatan melarutnya tinggi
4.                  Titik leleh adalah suhu dimana senyawa mulai melelh sampai melelh seluruhnya.
5.                  Titik leleh
Urea : Asam Benzoat
1 : 1 = 130° C - 134° C
1 : 4 =137° C - 139° C
4 : 1 = 134° C ­- 142° C
6.                  Titik leleh zat X yang diperoleh yaitu 120° C - 125° C dan berdasarkan titik leleh X tersebut zat X adalah asam benzoat.
B.                 SARAN
1.            Praktikan sebaiknya menguasai teori mengenai percobaan sebelum praktikum
2.            Praktikan sebaiknya benar-benar focus pada percobaan yang dilakukan
3.            Praktikan harus teliti dalam mengamati suhu pada thermometer






DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012.http ://community.Um.Ac.Id/showthhread. Php?73931_Rekristalisasi-Destilasi diakses pada tanggal 6 Mei 2012

Annifushie.wordpres.com/2008/12/16/Pemisahan-pemurnian zat-padat-rekristalisasi-titik-leleh/ diakses pada 6 Mei 2021

Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga.

Hart, dkk. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga

Soebagio, dkk. 2003. Kimia Analitik II. Malang : INSTE.

Tim Dosen Kimia Organik. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Organik 1. Makassar : Jurusan Kimia FMipa UNM.














JAWABAN PERTANYAAN
1.      Grafik titik didih terhadap volume destilat
2.                  Azeotrop biner adalah suatu campuran yang sangat sulit untuk dipisahkan sehingga dibutuhkan senyawa lain untuk dapat memutus ikatan azeotrop dengan bantuan tekanan yang tinggi. Cara membedakannya dalam percobaan tidak dapat dijelaskan karena destilasi azeotrop tidak dilakukan.
3.                  Dalam destilasi uap, uap yang keluar setelah kontak dengan bahan yang didestilasi merupakan campuran uap dari masing-masing komponen sebanding dengan volumenya.
4.                  Sifat-sifat yang harus dipunyai oleh suatu pelarut dalam rekristalisasi ialah pelarut yang dipilih dapat melarutkan zat yang akan dimurnikan dalam keadaan panas, bersifat polar, titik didihnya rendah, dan tidak bereaksi dengan zat yang dilarutkan.
5.                  Lima urutan kerja rekristalisasi:
a.                   Memilih pelarut yang cocok.
b.                  Melarutkan senyawa ke dalam pelarut panas.
c.                   Penyaringan
d.                  Pendinginan filtrate
e.                   Penyaringan dan pendinginan Kristal.
6.      Prisip dasar dari rekristalisasi adalah perbedaan kelarutan untuk zat yang akan dimurnikan dengan zat pencemarnya.
7.      Dua alasan penyaringan dengan labu isap adalah :
a.       Agar memperoleh Kristal yang lebih banyak dan lebih murni
b.      Agar pengotor tidak ikut pada Kristal.
8.      Penentuan titik leleh
Senyawa
Campuran
Titik Leleh
Trayek Leleh
A
B
Asam Salisilat
Urea
1:1
130-1340C
40C
Asam Salisilat
Urea
1:4
137-1390C
20C
Asam Salisilat
Urea
4:1
134-1420C
80C

9.                  Titik leleh zat yang diberikan asisten yaitu 121,50C-1220C , zat ini merupakan senyawa murni yang trayek titik lelehnya 50C
10.              Zat tak diketahui yaitu asam benzoat.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi

Faktor yang Mempengaruhi Kecepatan ReaksiPerubahan konsentrasi pereaksi per satuan waktu dapat dimanipulasi agar lebih cepat atau lebih lambat, bahkan reaksi dihentikan. Untuk melakukan manipulasi kecepatan reaksi, Anda perlu mengetahui faktor-faktor apa yang dapat memengaruhi kecepatan sutau reaksi. Faktor-faktor tersebut adalah konsentrasi pereaksi, luas permukaan zat-zat yang bereaksi, suhu reaksi, dan katalisator.
1. Pengaruh molaritas terhadap laju reaksi
Pada pembahasan sebelumnya, kalian telah belajar faktor ukuran partikel zat padat yang berpengaruh terhadap laju reaksi. Jika yang direaksikan dalam larutan, maka faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah molaritas. Suatu larutan dengan molaritas tinggi tentu mengandung molekul-molekul yang lebih rapat dibandingkan dengan molaritas larutan rendah. Larutan dengan molaritas tinggi merupakan larutan pekat dan larutan dengan molaritas rendah merupakan larutan encer. Pada larutan pekat, letak molekulnya rapat sehingga sering terjadi tumbukan dibandingkan dengan larutan encer. Itulah sebabnya, jika molaritas larutan yang direaksikan semakin besar, maka laju reaksinya juga semakin besar.
2. Pengaruh ukuran partikel terhadap laju reaksi
Dengan semakin kecil ukuran suatu materi, maka mengandung arti memperluas permukaan sentuh materi tersebut. Bayangkan. Jika kalian mempunyai benda berbentuk kubus dengan ukuran rusuk panjang, lebar, dan tinggi sama, yaitu 1 cm. Berapa luas permukaan kubus tersebut? Secara matematika dapat dihitung bahwa luas permukaan kubus sebesar 6 kali luas sisinya. Karena kubus mempunyai 6 sisi yang sama, maka jumlah luas permukaannya adalah 6 × 1 cm × 1 cm = 6 cm2. Sekarang jika kubus tersebut dipotong sehingga menjadi 8 buah kubus yang sama besar, maka keempat kubus akan mempunyai panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 0,5 cm. Luas permukaan untuk sebuah kubus menjadi 6 × 0,5 cm × 0,5 cm = 1,5 cm2. Jumlah luas permukaan kubus menjadi 8 × 1,5 cm2 = 12 cm2. Jadi, dengan memperkecil ukuran kubus, maka luas permukaan total menjadi semakin banyak. Hitunglah jika kubus diperkecil menjadi kubus-kubus yang lebih kecil sehingga ukuran rusuknya menjadi 1 mm.
3. Pengaruh suhu terhadap laju reaksi
Pernahkah kalian minum es teh? Mengapa es teh dibuat dari air teh panas ditambah gula baru kemudian diberi es batu? Mengapa tidak dari air teh dingin baru ditambah gula? Jika kalian tanyakan hal itu kepada penjual es teh tentu akan dijawab bahwa gula akan lebih cepat larut dalam air panas dibandingkan dengan air dingin, mengapa? Demikian halnya dengan reaksi kimia. Reaksi kimia cenderung berlangsung lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi. Demikian pula sebaliknya, kita juga bisa memperlambat reaksi dengan menurunkan suhu. Misal proses pembusukan makanan atau buah-buahan dapat diperlambat dengan mendinginkannya di lemari es atau freezer. Mengapa dengan semakin tinggi suhu, laju reaksi semakin cepat? Suhu mempunyai hubungan linear dengan gerakan molekul. Jika suhu semakin tinggi, maka molekul-molekul dalam materi akan semakin cepat bergerak. Akibatnya frekuensi terjadinya tumbukan semakin besar. Hal ini dapat mempercepat laju reaksi.
4. Pengaruh Katalis terhadap laju reaksi
Katalisator merupakan zat yang mampu mempengaruhi laju reaksi. Dalam kerjanya katalisator akan ikut bereaksi dengan zat-zat reaktan, tetapi diakhir proses reaksi katalisator tersebut akan memisah kembali. Katalis ada dua macam, yaitu katalis yang bersifat positif dan katalis negatif. Katalis bersifat positif dapat mempercepat laju reaksi. Katalis bersifat negatif merupakan katalisator yang memperlambat laju reaksi, katalisator ini dinamakan inhibitor.
Diagram energi aktivasi reaksi dengan atau tanpa katalis
Gambar 3.12 Diagram energi aktivasi reaksi dengan atau tanpa katalis.
Adanya katalis positif dalam reaksi kimia mengakibatkan energi aktivasi reaksi semakin kecil. Dengan demikian, kemungkinan terjadinya reaksi semakin besar. Bayangkan jika kalian ingin menuju suatu tempat yang dihalangi sebuah gunung. Jalan yang satu harus mendaki gunung, sedangkan jalan yang lain melewati terowongan yang menembus gunung, mana yang lebih cepat? Jalan yang harus mendaki gunung digambarkan sebagai jalan tanpa katalis, sedangkan jalan melalui terowongan adalah jalan dengan katalis. Dalam hal initerowongan merupakan suatu katalis.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kimia dalam Islam

Ilmu kimia merupakan sumbangan penting yang telah diwariskan para kimiawan Muslim di abad keemasan bagi peradaban modern. Para ilmuwan dan sejarah Barat pun mengakui bahwa dasar-dasar ilmu kimia modern diletakkan para kimiawan Muslim. Tak heran, bila dunia menabalkan kimiawan Muslim bernama Jabir Ibnu Hayyan sebagai 'Bapak Kimia Modern'."Para kimiawan Muslim adalah pendiri ilmu kimia," cetus Ilmuwan berkebangsaan Jerman di abad ke-18 M. Tanpa tedeng aling-aling, Will Durant dalam The Story of Civilization IV: The Age of Faith, juga mengakui bahwa para kimiawan Muslim di zaman kekhalifahanlah yang meletakkan fondasi ilmu kimia modern.

Menurut Durant, kimia merupakan ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh peradaban Islam. "Dalam bidang ini (kimia), peradaban Yunani (seperti kita ketahui) hanya sebatas melahirkan hipotesis yang samar-samar," ungkapnya.

Sedangkan, peradaban Islam, papar dia, telah memperkenalkan observasi yang tepat, eksperimen yang terkontrol, serta catatan atau dokumen yang begitu teliti.Tak hanya itu, sejarah mencatat bahwa peradaban Islam di era kejayaan telah melakukan revolusi dalam bidang kimia.

Kimiawan Muslim telah mengubah teori-teori ilmu kimia menjadi sebuah industri yang penting bagi peradaban dunia. Dengan memanfaatkan ilmu kimia, Ilmuwan Islam di zaman kegemilangan telah berhasil menghasilkan sederet produk dan penemuan yang sangat dirasakan manfaatnya hingga kini.

Berkat revolusi sains yang digelorakan para kimiawan Muslim-lah, dunia mengenal berbagai industri serta zat dan senyawa kimia penting. Adalah fakta tak terbantahkan bahwa alkohol, nitrat, asam sulfur, nitrat silver, dan potasium--senyawa penting dalam kehidupan manusia modern--merupakan penemuan para kimiawan Muslim. Revolusi ilmu kimia yang dilakukan para kimiawan Muslim di abad kejayaan juga telah melahirkan teknik-teknik sublimasi, kristalisasi, dan distilasi. Dengan menguasai teknik-teknik itulah, peradaban Islam akhirnya mampu membidani kelahiran sederet industri penting bagi umat manusia, seperti industri farmasi, tekstil, perminyakan, kesehatan, makanan dan minuman, perhiasan, hingga militer.

Pencapaian yang sangat fenomenal itu merupakan buah karya dan dedikasi para ilmuwan seperti Jabir Ibnu Hayyan, Al-Razi, Al-Majriti, Al-Biruni, Ibnu Sina, dan masih banyak yang lainnya. Setiap kimiawan Muslim itu telah memberi sumbangan yang berbeda-beda bagi pengembangan ilmu kimia. Jabir (721 M-815 M), misalnya, telah memperkenalkan eksperimen atau percobaan kimia. Ia bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah laboratorium dengan serangkaian eksperimen. Salah satu ciri khas eksperimen yang dilakukannya bersifat kuantitatif. Ilmuwan Muslim berjuluk 'Bapak Kimia Modern' itu juga tercatat sebagai penemu sederet proses kimia, seperti penyulingan/distilasi, kristalisasi, kalnasi, dan sublimasi.

Sang ilmuwan yang dikenal di Barat dengan sebutan 'Geber' itu pun tercatat berhasil menciptakan instrumen pemotong, pelebur, dan pengkristal. Selain itu, dia pun mampu menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, dan pemurnian.Berkat jasanya pula, teori oksidasi-reduksi yang begitu terkenal dalam ilmu kimia terungkap. Senyawa atau zat penting seperti asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, dan asam asetat lahir dari hasil penelitian dan pemikiran Jabir. Ia pun sukses melakukan distilasi alkohol. Salah satu pencapaian penting lainnya dalam merevolusi kimia adalah mendirikan industri parfum.
Ilmuwan Muslim lainnya yang berjasa melakukan revolusi dalam ilmu kimia adalah Al-Razi (lahir 866 M). Dalam karyanya berjudul, Secret of Secret, Al-Razi mampu membuat klasifikasi zat alam yang sangat bermanfaat. Ia membagi zat yang ada di alam menjadi tiga, yakni zat keduniawian, tumbuhan, dan zat binatang. Soda serta oksida timah merupakan hasil kreasinya.Al-Razi pun tercatat mampu membangun dan mengembangkan laboratorium kimia bernuansa modern. Ia menggunakan lebih dari 20 peralatan laboratorium pada saat itu. Dia juga menjelaskan eksperimen-eksperimen yang dilakukannya. "Al-Razi merupakan ilmuwan pelopor yang menciptakan laboratorium modern," ungkap Anawati dan Hill.

Bahkan, peralatan laboratorium yang digunakannya pada zaman itu masih tetap dipakai hingga sekarang. "Kontribusi yang diberikan Al-Razi dalam ilmu kimia sungguh luar biasa penting," cetus Erick John Holmyard (1990) dalam bukunya, Alchemy. Berkat Al-Razi pula industri farmakologi muncul di dunia.

Sosok kimiawan Muslim lainnya yang tak kalah populer adalah Al-Majriti (950 M-1007 M). Ilmuwan Muslim asal Madrid, Spanyol, ini berhasil menulis buku kimia bertajuk, Rutbat Al-Hakim. Dalam kitab itu, dia memaparkan rumus dan tata cara pemurnian logam mulia. Dia juga tercatat sebagai ilmuwan pertama yang membuktikan prinsip-prinsip kekekalan masa --yang delapan abad berikutnya dikembangkan kimiawan Barat bernama Lavoisier.

Sejarah peradaban Islam pun merekam kontribusi Al-Biruni (wafat 1051 M) dalam bidang kimia dan farmakologi. Dalam Kitab Al-Saydalah (Kitab Obat-obatan), dia menjelaskan secara detail pengetahuan tentang obat-obatan. Selain itu, ia juga menegaskan pentingnya peran farmasi dan fungsinya. Begitulah, para kimiawan Muslim di era kekhalifahan berperan melakukan revolusi dalam ilmu kimia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis


 I.       Judul percobaan
“Kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis”
II.    Tujuan percobaan
Pada akhir percobaan mahasiswa harus mengerti mengenai:
1.      Teknik-teknik dasar kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis
2.      Prinsip dasar dari kromatografi
3.      Prinsip dasar dari pengaruh substituent terhadap substitusi elektrofil pada senyawa aromatik
III. Landasan Teori
        Kromatografi pertama kali diperkenalkan oleh Michael Tswet, (1906) seorang (ahli botani dari Rusia. Dalam percobaannya, ia berhasil memisahkan klorofil dan pigmen. Pigmen warna lain dari ekstrak tumbuham dengan menggunakan serbuk kalsium karbonat yang diisikan kedalam kolom kaca dan petroleum eter sebagai pelarut. Proses pemisahan itu diawali dengan menempatkan larutan cuplikan pada permukaan atas kalsium karbonat, kemudian dialirkan pelarut petroleum eter. Hasilnya berupa pita-pita berwarna yang terlihat sepanjang kolom sebagai hasil pemisahan komponen-komponen dalam ekstrak tumbuhan. Dari pita-pita berwarna tersebut muncul istilah kromatografi yang berasal dari kata “Chroma” dan “Graphein”. Dalam bahasa yunani kedua kata tersebut berarti “Warna” dan “Menulis” (Soebagio,2000:54).
        Kromatografi adalah prinsip pemisaham campuran senyawa atas komponen-komponen berdasarkan perbedaan kecepatan migrasi masing-masing komponen diantara dua fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak. Perbedaan kromatografidahan tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan kemampuan masing-masing komponen untuk diserap (adsorpsi) atau perbedaan distribusi diantara dua fasa yang  tidak saling bercampur (partisi) (Tim Dosen, 2012:39).
               Pengertian kromatografi menyangkut metode pemisahanyang didasarkan atas distribusi diferensial komponen sampel diantara dua fasa. Menurut pengertian ini kromatografi selalu melibatkan dua fasa, yaitu fasa diam dan fasa gerak. Fasa diam dapat berupa cairan yang terikat pada permukaan padatan (kertas atau suatu adsorben) sedangkan fasa gerak dapat berupa cairan eluen atau pelarut atau gas pembawa yang inert (Soebagio,2000:54).
     Pemisahan yang terjadi dalam kromatografi dilaksanakan dengan memanipulasi sedemikian rupa sifat-sifat fisik umum dari suatu senyawa atau molekul, yaitu:
a.   Kecenderungan suatu molekul untuk larut dalam cairan ( kelarutan)
b. Kecenderungan suatu molekul untuk berkait dengan sutu serbuk bahan padat (absorbsi)
c .Kecenderungan suatu molekul untuk menguap (volatilitas).
   Dalam kromatografi, senyawa yang akan dipisahkan ditempatkan pada situasi dinamik (bergerak) yaitu dengan melakukan pengaliran dan selama itu akan terjadi peristiwa pelarutan absorbsi atau penguapan (Slamet,1989:43).
             Menurut Asyhar (2012), ada lima macam kromatografi, yaitu:
1.Kromatografi lapis tipis                                                                                                                 
Merupakan kromatografi yang menggunakan lempeng gelas atau aluminium yang dilapisi dengan lapisan tipis alumina, silica gel, atau bahan serbuk lainnya.
2.Kromatografi penukar ion
Merupakan bidanigunakan untuk  khusus kromatografi cairan-cairan seperti namanya, system ini khusus digunakan untuk spesies ion
3.Kromatografi penyaringan gel
Merupakan proses pemisahan dengan gel yang terdiri dari modifikasi dekstran molekul polisakarida linear yang mempunyai akatan silang
4.Elektroforesis
Merupakan kromatografi yang diberi medan listrik disisinya dan tegak lurus aliran fasa gerak
5.Kromatografi kertas
Merupakan kromatografi cairan-cairan dimana sebagai fasa diam  adalah lapisan tipis air yang diserap dari lembab udara oleh kertas jenis fasa cair laiinnya dapat digunakan.
            Kromatografi kolom merupakan teknik kromatografi yang paling awal ditemukan dari mekanismenya, kromatografi kolom merupakan terapan atau absobsi yang tidak boleh larut dalam fasa gerak, ukuran partikel fasa diam harus seragam.  Zat pengotor yang terdapat pada  fasa diam dapat menyebabkan absobsi tidak reversible sebagai fasa diam digunakan alumina, silica gel, arang, bauksit, magnesium karbonat, kalsium karbonat, talk, pati, sekelator, gula dan tanah diatom.Fasa gerak pada kromatografi kolom dapat  berupa pelarut tunggal atau campuran beberapa pelarut polar dan nonpolar. Umumnya senyawa nonpolar dengan  berat molekul lebih cepat meninggalkan fasa diam (Soebagio,2000:81-82).
             Kromatografi kolom bertujuan untuk mengisolasi komponen kurkumin dari campurannya. Pada kromatografi kolom ini digunakan kolom dengan adsorben silica gel karena kolom yang dibentukdengan silica gel memiliki tekstur dan struktur yang lebih kompak dan teratur. silika gel dalam bentuk tetrahedral raksasa, sehingga ikatannya kuat dan rapat. Dengan demikian, adsorben silica gel mampu menghasilkan proses pemisahan yang lebih optimal (Asyhar,2012:diakses pada tanggal 26 april 2012).
            Kromatografi lapisan tipis atau TLC seperti halnya kromatografi kertas, murah dan mudah dilakukan. Kromatografi ini mempunyai  satu keunggulan dari segi kecepatan dari kromatografi kertas. Proses kromatografi lapisan tipis membutuhkan hanya setengah jam saja, sedangkan pemisahan yang umum pada kertas membutuhkan waktu beberapa jam. TLC sangat terkenal dan rutin digunakan diberbagai laboratorium. Media pemisahannya adalah lapisan dengan ketebalan sekitar 0.1 sampai 0.3mm zat padat adsorben pada lempeng kaca, plastik atau aluminium. lempeng yang paling umum digunakan berukuran delapan kali dua inci dan zat padat yang umum digunakan adalah alumina, gel silica dan selulosa (R.A.Day,JR,2002:551-552).
             Perhitungan nilai Rf berdasarkan pada jarak yang ditempuh oleh pelarut dan jarak yang ditempuh oleh bercak warna masina-masing. Nilai Rf untuk setiap warna dihitung dengan  rumus sebagai berikut:
Rf =  
IV. Metode
A.    Alat dan Bahan
1.      Alat
a.       Erlenmeyer 50 ml 6 buah
b.      Pipa kapiler
c.       Kolom gelas
d.      Pelat KLT
e.       Botol elusi
f.       Botol semprot
g.      Botol uap iodium
h.      Gelas ukur 
i.        Spiritus, kaki tiga, kasa
j.        Statif dan Klem
k.      Corong pisah
l.        Pipet tetes
m.    Termometer
2.      Bahan
a.       Kapas
b.      Silica gel TLC
c.       Kristal iod
d.      Asam nitrat pekat
e.       Ekstrak batang daun bambu
f.       Benzena
g.      Kloroforn
h.      Aquades
B.     Cara kerja
1.      Pembuatan kromatografi kolom
a.       Menyiapkan kolom gelas yang berisi penyumbat kapas pada ujungnya
b.      Memasukkan kloroform ke dalam kolom sampai setengahnya
c.       Memasukkan campuran silica gel dan ekstrak batang daun bambu kedalam kolom yang telah diisi kloroform sebelumnya dan membiarkannya menetes 
d.      Menampung fraksi-fraksi tetesan yang keluar dari kolom gelas
e.       Mengganti gelas ukur setiap 20 ml sebanyak 6 kali
f.       Mengumpulkan fraksi
2.      Pemeriksaan lapis tipis
a.  Mengambil satu per satu fraksi, mulai dari gelas pertama sampai keenam, kemudian menotolkan fraksi pada plat tipis silica gel
b.      Memasukkan plat lapis tipis silica gel kedalam botol eluen berisi benzena
c.       Meneteskan noda awal, lalu mengambil plat tersebut dan mengeringkan di udara
d.      Menyimpan plat kedalam botol berisi uap iodium
e.       Menentukan harga Rf dari noda-noda yang diperoleh.

V.    Hasil Pengamatan
     Silica gel, kloroform dan ekstrak batang daun bambu dimasukkan kedalam kolom gelas, terbentuk serbuk berwarna hijau tua kemudian menambahkan silica gel, kloroform dan serbuk yang dibuat sebelumnya kedalam kolom gelas, terjadi perubahan warna dan terbentuk 2 lapisan, dimana lapisan bawah adalah silica gel yang berwarna putih dan lapisan atas berwarna hijau tua. Tetesan fraksi-fraksi eluen yang keluar dari kolom gelas ditampung hingga 20 ml dan tetesan tersebut berwarna hijau kehitam-hitaman. Kemudian ditambahkan lagi kloroform 10 ml kedalam kolom gelas lalu gelas ukur atau penampung diganti yamg lain, larutan yang dihasilkan berwarna hijau lebih muda dari hasil pertama. Hasil fraksi dari masing-masing penampung ditotolkan pada pelat lapis tipis yaitu pada garis yang telah dibuat sebelumnya. Kemudian pelat tersebut dimasukkan kedalam bottas bol eluen yang telah berisi benzene dan mengukur garis pada pelat 0,5 cm dari batas bawah pelat dan 4 cm dari garis bagian bawah yang telah dibuat, larutan benzene mengalami penyerapan pada pelat lapis tipis hingga sebelum sampai tepat pada garis 4 cm. kemudian iod dipanaskan dalam gelas kimia, menghasilkan uap berwarna ungu. Gelas kimia yang berisi uap berwarna ungu, dimasukkan plat kedalamnya, sehingga warna masing-masing noda semakin jelas dari warna kekuning-kuningan hingga kemerah- merahan. Adapun batas noda(Rf) untuk setiap noda:
a.    Fraksi 1       :     noda 1 Rfnya 0,125 cm
b.    Fraksi 2       :     noda 1 Rfnya 0,175 cm
c.     Fraksi 3      :  - noda 1 Rfnya 0,125 cm
                    -  noda 2  Rfnya   0,125 cm

VI. Analisis data
1.         Fraksi 1
Noda 1 Rf =  
                           =  = 0,125 cm
2.        Fraksi 2
Noda 1 Rf = 
                           =  = 0,175 cm

3.        Fraksi 3
Noda 1 Rf = 
                           =  = 0,125 cm

Noda 2  Rf = 
                           =  = 0,125 cm
VII Pembahasan
1.      Pembuatan Kromatografi Kolom
Pada percobaan ini, campuran serbuk yang dibuat sebelumnya dimasukkan kedalam kolom yang telah berisi penyumbat gabus, yang telah dimasukkan ekstraknya terlebih dahulu, silica gel dan kloroform. Kemudian dielusi lagi dengan kloroform sampai adanya fraksi, dimana masing-masing fraksi mengandung satu komponen yang identitasnya ditentukan dengan kromatografi lapis tipis. Peralatan kromatografi sangat sederhana. Kolom dilengkapi dengan kran untuk mengatur aliran pelarut dan penyumbat kapas untuk menahan fase diam. Fase diamnya yaitu silica gel dan fase geraknya kloroform.
Dalam pelaksanaan pemisahan dengan teknik ini, pertama-tama campuran diletakkan dibagian atas kolom yang berisi fase diam. Fase gerak kemudian dialirkan pelan-pelan dan dibiarkan mengalir melalui kolom tersebut. Pada saat bergerak, fase gerak membawa campuran kebawah. Karena setiap komponen dalam campuran mempunyai koefisien distribusi yang berbeda, maka kecepatan migrasinya juga berbeda. Perbedaan kecepatan inilah yang menyebabkan terjadinya pemisahan komponen dalam campuran. Kemudian pelarut yang menetes atau eluen keluar dari kolom dan ditampung fraksinya. Komponen pertama keluar dari kolom adalah komponen kurang polar, karena silica berikatan lebih erat dengan senyawa polar, Sehingga senyawa polarnya lama berada dalam kolom. Pelarut yang lebih polar  membawa senyawa yang kurang polar lebih cepat melintasi kolom, karena senyawa tersebut kurang berinteraksi dengan fase yang polar dan hanya berada dalam kolom untuk waktu yang berbeda-beda.   
2. Pemeriksaan Lapis Tipis
 Berdasarkan percobaan, fraksi-fraksi yang diperoleh ditotolkan pada plat lapis tipis, kemudian dimasukkan kedalam botol eluen yang berisi benzene. Noda mulai bergerak sedikit demi sedikit keatas. Dari hasil pengamatan yang diperoleh, komponen yang menempuh jarak lebih jauh bersifat nonpolar dibanding dengan senyawa polar. Adapun Rfnya adalah:
a.     Fraksi 1       :     noda 1 Rfnya 0,125 cm
b.     Fraksi 2       :     noda 1 Rfnya 0,175 cm
c.     Fraksi 3       :  - noda 1 Rfnya 0,125 cm
                    -  noda 2  Rfnya   0,125 cm

VIII.       Kesimpulan dan saran
1.      Kesimpulan
a.       Kromatografi adalah prinsip pemisahan campuran senyawa komponen-komponen berdasarkan perbedaan kecepatan migrasi masing-masing komponen diantara dua fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak
b.      Pemisahan dalam hal ini yang dilakukan adalah kromatigrafi kolom dan kromatografi lapis tipis
c.       Prinsip kerja kromatografi adalah pemisahan campuran senyawa atas komponen berdasarkan perbedaan kecepatan migrasi masing-masing fasa..
2.      Saran
a.       Sebaiknya praktikan mempelajari dan memahami teori sebelum praktikum
b.      Sebaiknya praktikan memperhatikan petunjuk yang diberikan oleh asiaten agar hasil yang diperoleh sesuai yang diinginkan













DAFTAR PUSTAKA


Arsyar. 2010. Kromatografi kolom dan lapis tipis  (http://arsyharst08.wodpress.com). Diakses pada tanggal 26 april 2012.  

Clark, Jim. 2007. Kromatografi lapis tipis (http://www. Chem-is-Try Org). Diakses pada tanggal 26 april 2012.

Soebagio, dkk. 2000. Kimia Analitik II.Malang: JICA.

Sudarmadji, Slamet, dkk.1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian
.            Liberti: Yogyakarta.

Tim Dosen Kimia Organik. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Organik 1. Makassar:  Universitas Negeri Makassar.

Underwood,A.L,dkk. 2002. Analitik Kimia Kuantitatif. Edisi keenam. Jakarta: Erlangga.



























JAWABAN PERTANYAAN

1.      Urutan kepolaran fraksi fenol dengan memperhatikan nilai  Rfnya maka yang paling polar adalah o- nitro fenol dengan harga Rf yang paling tinggi
2.       Salah satu Saran untuk memperoleh senyawa murni adalah melalui teknik penggunaan kromatografi adalah pelarut-pelarut yang digunakan sebaiknya mempunyai kemurnian yang tinggi karena terdapatnya sedikit zat pengat laiinya dapat menghasilkan kromatografi yang tidak diinginkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS